Kunci mendapatkan ilmu yang Bermanfaat


🔏 Kunci mendapatkan ilmu Yang Bermanfaat 🔏

العلم صيد والكتابة قيده
قيد صيودك بالحبال الواثقة
فمن الحماقة أن تصيد غزالة
وتتركها بين الخلائق طالقة

“Ilmu itu bagaikan binatang liar, Sedang mencatat adalah pengikatnya
Ikatlah hewan buruanmu dengan tali yang kuat
Adalah kelalaian sekali jika anda memburu seekor kijang,
Kemudian anda lepas begitu saja tanpa tali pengikat.
Imam Asy-Syafi’i rahimahullah juga berkata untuk kita semua :

أَخِي لَنْ تَنَالَ العِلْمَ إِلاَّ بِسِتَّةٍ سَأُنْبِيْكَ عَنْ تَفْصِيْلِهَا بِبَيَانٍ: ذَكَاءٌ وَحِرْصٌ وَاجْتِهَادٌ وَدِرْهَمٌ وَصُحْبَةُ أُسْتَاذٍ وَطُوْلُ زَمَانٍ

“Wahai saudaraku… ilmu tidak akan diperoleh kecuali dengan enam perkara yang akan saya beritahukan perinciannya:

(1) Kecerdasan
(2) Semangat
(3) Sungguh-sungguh
(4) Berkecukupan
(5) Bersahabat (belajar) dengan ustadz
(6) Membutuhkan waktu yang lama.”

🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃

1⃣  Kecerdasan : Sebagai penuntut ilmu, salah satu bekal yang perlu di miliki dan di cari adalah kecerdasaan, karena salah satu sarana untuk menggapai ilmu, cepat dalam menghaf Al Qur'an serta mudah memahami konteks di setiap ayat yang di baca.

Kadang kecerdasaan satu sama lain berbeda, ada yang sudah di karunia oleh Allah sejak lahir, dan ada juga yang memilikinya dengan belajar dan mengasah diri.

Ibnu Abbas karena kecerdasaanha dikenal dengan julukan Turjumaanul Qur’an (juru tafsir al-Qur’an), Ibnu Abbas Radiyallahu ‘anhu ditanya, “Darimanakah Anda mendapatkan ilmu sebanyak ini?

“Aku mendapatkannya dengan lisan banyak bertanya dan hati yang banyak berpikir.”

Ibnu abbas mengajarkan kepada kita supaya cerdas dalam mencari ilmu, apa lagi ketika sudah berurusan dengan Al Qur'an, beliau cerdas dan memberikan kunci kenapa beliau bisa cerdas. Jawabannya adalah dengan senantiasa bertanya dan hati yang selalu serasi dengan ke ilmuan tidak dengan emosional ataupun mengikuti hawa nafsu.

2⃣  Semangat : ibarat angin yang berhembus membesarkan api, semangat merupakan pembesar tekat yang sudah di niatkan untuk mencapai cita-cita.

Sebagai seorang penuntut ilmu sudah sepatutnya untuk menjaga semangat dan terus menumbuhkan semangat dari dalam diri sendiri agar bisa menggerakan badan untuk menuntun diri dan supaya tidak loyo mencapai apa-apa yang sudah di inginkan atau yang di cita-citakan, terutama untuk urusan akhirat.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

احرص على ما ينفعك، واستعن بالله ولا تعجزن، وإن أصابك شيء فلا تقل لو أني فعلت لكان كذا وكذا؛ ولكن قل: قدر الله وما شاء فعل، فإن لو تفتح عمل الشيطان

“Bersemangatlah kamu terhadap apa-apa yang bermanfaat bagi kamu, dan mohonlah pertolongan pada Allah dan jangan merasa lemah. Dan jika sesuatu menimpamu maka jangan katakan andaikata dulu saya melakukan begini pasti akan begini dan begini, tetapi katakanlah semua adalah takdir dari Allah dan apa yang dikehendakiNya pasti terjadi. Sesungguhnya (perkataan) “seandainya-seandainya” akan membuka amalan syaithan.” [HR Muslim]

3⃣  Sungguh-sungguh : niat merupakan inti dari pada sebuah amalan, sedangkan kesungguhan merupakan cerminan dari niat itu sendiri, semakin kuat kesungguhan yang di usahakan, maka akan nampak ke jujuran dari niat itu sendiri.

Sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan merubah sesuatu nikmat yang telah dianugrahkan-Nya kepada sesuatu kaum, hingga kaum itu merubah apa yang ada pada diri mereka sendiri. [08:Al Anfaal:53].

Kesungguhan akan merubah diri menjadi lebih baik lagi, karena Allah tidak akan merubah kondisi seseorang kecuali orang tersebut bergerak dan bersungguh untuk berubah, tidak cukup dengan niat saja, seorang yang mempunyai niat yang begitu kuat untuk menjadi penghafal 30 juz akan tetapi lemah dalam semangat mendatangi majlis majlis tahfizh, maka akan sulit baginya untuk mencapai cita-citanya.

Bersungguh sunggah dalam arti, ketika dalam kondisi yang lemah, dia tetap semangat untuk hadir dan terus hadir untuk belajar Al Qur'an atau ilmu lainya, tak peduli jarak dan waktu yang di tempuh, ia tetap hadir di halaqoh Qur'an sebagia bukti kesungguhan di hadapn Allah, agar di permudah jalan dan di hilangkan hambat-hambat yang menjadikan ia malas atau bosan memcapai cita-cita. Rasulullah pernah mengatakan bahwasanya setiap orang akan dimudahkan untuk sesuatu yang telah diciptakan baginya [HR. Bukhari, Muslim].

Mudah di gapainya dengan sungguh-sungguh serta dengan niat yang jujur di barengi dengan semangat yang besar.

4⃣  Berkecukupan : Ibarat menunaikan haji, bagi seorang penuntut ilmu sangat di anjurkan mempersiapkan segala sesuatu untuk mencari ilmu, baik kesiapan mental, fisik mau harta. Karena mereka tahu bahwasanya menuntut ilmu adalah jihad atau jalannya menuju surgaNya Allah.

Di kisahkan di mana Ibu dari Rabi’ah Ar-ra’yi guru Imam Malik menghabiskan 30.000 dinar ( 1 dinar = sekitar Rp 48rb ) untuk pendidikan anaknya, tatkala suaminya pulang dan menagih harta yang di titip terjadi perbincangan,

`فقالت أمه: أيما أحب إليك ثلاثون ألف دينار، أَوْ هذا الَّذِي هو فيه من الجاه، قَالَ: لا وَالله إِلا هذا، قالت: فإني قد أنفقت المال كله عَلَيْهِ، قَالَ: فوالله ما ضيعته.

“Ibu Rabi’ah berkata kepada suaminya, “mana yang engkau sukai antara 30.000 dinar atau kedudukan yang dia (anakmu) peroleh?”, suaminya berkata, “demi Allah aku lebih suka yang ini (kedudukan ilmu anaknya), Ibu rabi’ah berkata, “Saya telah menghabiskan seluruh harta tersebut untuk mendapatkan seperti sekarang ini”, suaminya berkata, “Demi Allah, engkau tidak menyia-nyiakannya.”

Di ceritakan bahwasanya seorang pencari hadist rela ke hilangan anggota tubuhnya karena mati rasa di sebabkan dinginnya udara perjalanan hanya untuk mencari 1 hadist nabi, dan kita tahu mereka mencari dengan melakukan perjalan berhari2 bahkan ada yang berbulan bulan.

Maa syaAllah mereka semua rela mengorbankan apa-apa yang di miliknya untuk mencapai kemulian.

Kita yang Allah mudahkan dan cukupkan baik mental, jiwa dan harta sudah selayaknya bersyukur dan lebih bersemangat lagi dalam mencari ilmu apa lagi yang kita tuju adalah menghafalkan Al Qur'an yang merupakan 'surat cinta' dari Allah buat hamba hambaNya.

5⃣  Bersahabat (belajar) dengan ustadz : Hendaklah bagi yang mencari ilmu mempunyai guru-guru yang dapat menuntunnya mendaptkan ilmu yang bermanfaat, dan tidak menjadikan buku-buku sebagai gurunya, Ali Bin Abi Thalib menasehati kita semua hendaklah apabila kita mencari sebuah ilmu agama khusunya, kita harus berguru kepada mereka berilmu bukan kepada buku-buku. Karena dengan guru orang akan belajar banyak hal yang mana ia tidak dapatkan ketika hanya membaca buku. Dan juga agar kita tidak salah penafsiran.

Dan ketika seorang sudah berguru maka ia harus bersabar, sebagaiamana wasiat Imam Syafi'i :

Bersabarlah terhadap kerasnya sikap seorang guru.
Sesungguhnya gagalnya mempelajari ilmu karena memusuhinya.
Barangsiapa belum merasakan pahitnya belajar walau sebentar,
Ia akan merasakan hinanya kebodohan sepanjang hidupnya.
Dan barangsiapa ketinggalan belajar di masa mudanya,
Maka bertakbirlah untuknya empat kali karena kematiannya.
Demi Allah hakekat seorang pemuda adalah dengan ilmu dan takwa.
Bila keduanya tidak ada maka tidak ada anggapan baginya.

Para ulama dan orang-orang terdahulu, mereka bisa sampai ke derajat yang tinggi, di karnakan salah satunya adalah mereka mempunya banyak guru untuk di ambil ilmunya. Imam malik contohnya beliua mengambil hadist kurang lebih dari 900 guru, ada juga para ulama terdahulu yang mempunyai guru lebih dari 1000 guru, dan masih banyak lagi para penuntut ilmu yang mana mereka mengabil banyak dari guru-guru mereka dan tidak memilih milih guru selama ia mendapatkan ilmu yang bermanfaat.

6⃣  Membutuhkan waktu yang lama.: "Al Qadhi Iyadh suatu ketika pernah ditanya ”Samapi kapan seseorang harus menuntut ilmu?”. Beliau menjawab: “ Sampai ia meninggal."

Ibnul Mubarok berkata,

تعلمنا الأدب ثلاثين عاماً، وتعلمنا العلم عشرين.

“Kami mempelajari masalah adab itu selama 30 tahun sedangkan kami mempelajari ilmu selama 20 tahun.”

Mencari ilmu tidak akan sampai tahap akhir dengan cara yang instan, sebagaimana para ulama terdahulu, mereka mencari ilmu bertahun-tahun dan selalu menikmati di setiap perjalanan mereka, karena tahu akan sebuah ke utamaan mencari ilmu. Ketika seseorang berjalan melalui tahapan tahapan, tingkatan, level level tertentu, maka ia akan mencapai sebuah hasil dan derajat tertentu, karena itulah salah satu seorang yang gagal dalam menguasai sebuah ilmu di karnakan, tergesa gesa dalam mencari ilmu, ingin mendapatkan hasil yang cepat, tidak melalui tahapan tahapan sebagaimana mestinya.

Ketika bayi baru lahir dan tumbuh dewasa, maka hal yang biasa ia lakukan pertama kali supaya bisa berjalan sebagaimana orang dewasa adalah guling guling, kemudian masuk k level merangkak, kemudia ia berdiri, setelah berdiri maka ia akan berjalan perlahan, jatuh bangun jatuh bangun sampai pada saatnya ia mampu berjalan dan berlari dst.

Mana kala bayi baru lahir kemudian di paksa untuk berdiri, maka sudah tentu tidak baik untuk kesehatan tulang2 bayi itu sendiri. Karena ia langsung loncat ke tahap yang belum layak untuk di lakukan.

Tidak jauh beda dengan penuntut ilmu dan para penghafal Al Qur'an, mereka sudah selayaknya bersabar lama dalam zaman dan harus melalui beberapa tahapan dan level untuk mencapai sebuah kematangan ilmu. Dan itu semua akan memakan waktu yang lama. Dan sudah sepantasnya seorang penuntut ilmu bersabar dan bersabar walau memerlukan waktu yang lama. Karena di dunia ini adalab landang umat manusia mencari ilmu yang kemudian di gunakan untuk mementaskan diri menjadi pribadi yang di cintai oleh Allah dan kemudian di masukan kedalam surgaNya dan berkumpul dengan sang kekasih yaitu Rasulullah.

اَللَّهُمَّ إِِنِّيْ أَعُوْذُبِكَ مِنْ عِلْمٍ لاَ يَنْفَعُ , وَمِنْ قَلْبٍ لاَ يَخْشَعُ , وَمِنْ نَفْسٍ لاَ تَشْبَعُ , وَمِنْ دَعْوَةٍ لاَ يُسْتَجَابُ لَهاَ.

“ Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat dari hati yanh tidak khusyuk, dari nafsu yang tidak pernah kenyang, dan dari doa yang tidak diperkenankan.”

Wallahu A'lam

✍🏻 Uqbah Aziz

No comments:
Write komentar

Silahkan Berlangganan Gratis Artikel
Segera update !